Mendidik Siswa di Era Digital

Muhammad Yunus

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya” itulah pesan dari Sayyidina Ali bin Abu Thalib karamallah wajha. Sebuah pesan yang patut dijadikan renungan dalam mendidik putra putri kita khususnya dalam dunia pendidikan formal seperti halnya sekolah. Pesan tersebut tersirat bahwa proses pembelajaran disekolah tidak boleh menoton. Metode dan teknik pembelajaran yang dipakai tidak boleh ‘status quo’, guru harus mampu melakukan perubahan-perubahan pembelajaran didalam kelas ‘revolusi pembelajaran’ guna mengantarkan putra putri kita sadar akan tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Seperti yang kita ketahui bahwa tugas diciptakannya manusia dimuka bumi ini adalah untuk menghamba pada Rabnya. Apa dan bagaimana cara menghamba yang baik, maka Allah mengutus para Rosul-Nya untuk mengajarkan penghambaan yang baik dan benar. Dari sinilah sesungguhnya proses pendidikan itu muncul. Para rosul Allah SWT sejatinya adalah para guru dimuka bumi yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk menjadi wakil-Nya mengajarkan hal-hal hak dan yang bathil sehingga manusia sebagai ciptaanNya ini sadar diri dan tidak menyimpang dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Maka agama (Tauhid, Syariat, dan Akhlak) menjadi kurikulum agama yang harus diajarkan kepada setiap manusia. Dalam konteks inilah Islam mewajibkan (wajib ‘ain) setiap individu muslim untuk menuntut ilmu, tidak terkecuali laki-laki dan perempuan, semuanya wajib. Kurikulum dalam Agama Islam ini jelas ada di Al Quran dan Al Hadist serta penjelasan-penjelasan para ulama sebagai pewaris dari para Nabi.

Singkatnya, dimanapun dan kapanpun manusia itu hidup maka kurikulum ini harus mampu ditranfer pada dirinya dan ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga perjalanan hidupnya selamat, manfaat, dan membawa kenikmatan dunia akhirat. Peserta didik dalam konteks ini harus mendapatkan porsi yang cukup agar bisa meraih keselamatan dunia akhirat, kemanfaatan dunia akhirat, dan kenikmatan dunia akhirat. Oleh karenanya agama ini harus diajarkan dan dicontohkan oleh seorang guru. Peserta didik tidak bisa memahami agama hanya dengan membaca dimedia dan buku-buku terjemahan tanpa ada bimbingan dari seorang guru. Karena agama tidak semata ilmu pengetahuan melainkan juga masuk pada wilayah hati dan terkait langsung dengan Allah swt.

Tugas yang kedua selain penghambaan adalah memberi keselamatan kepada orang lain atas nama Allah SWT. Inilah yang disebut dengan khalifatulah fil ardh (wakil Allah dimuka bumi). Menjadi seorang wakil maka harus mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup untuk mensukseskan tugas sebagai seorang wakil. Dalam konteks keduniaan maka ilmu pengetahuan yang sifatnya untuk melestarikan kehidupan mutlak diperlukan. Maka penguasaan Matematika, Bahasa, Ilmu Alam, Ilmu Sosial, Filsafat dan sebagainya haruslah dikuasai. Lembaga pendidikan yang ada mempunyai tugas untuk mengantarkan putra putri kita sampai pada penguasaan ini. Dalam konteks inilah para guru saat ini diperlukan untuk menguasai teknologi digital karena eranya sudah masuk pada era digital selain pada penguasaan atas ilmu pengetahuan itu sendiri.

Teknologi informasi yang sangat masif telah menyajikan seluruh ilmu pengetahuan yang ada dalam satu genggaman, gadget(gawai). Siswa bisa jadi mereka telah lebih dulu mengakses informasi itu diluar kelas. Mungkin dilingkungan sekolah, mungkin di rumah, atau mungkin dikalangan mereka sendiri. Artinya adalah silabus yang ditetapkan oleh pemerintah/sekolah haruslah disampaikan dengan sajian yang tidak membosankan kepada siswa. Betul mereka sudah lebih dulu tahu akan apa yang disampaikan oleh guru, tetapi jika disajikan dengan menarik maka siswa akan delbih tertantang dan kreativitas, novelti, serta inovasi akan muncul dari siswa. Harus ada nuansa yang berbeda didalam kelas. Nuansa itu menurut hemat penulis dapat dilakukan salah satunya dengan pendekatan dialogis dan pembelajaran kooperatif.

Pendekatan dialogis adalah pendekatan dimana ilmu pengetahuan diyakini bukan monopoli milik guru. Pendekatan dialogis menuntut untuk menggali informasi sebanyak-banyak seraya menemukan titik temu atau pemahaman pengetahuan yang utuh. Pendekatan dialogis dapat diterapkan dengan memunculkan banyak pertanyaan-pertanyaan kepada siswa seraya menantang siswa untuk berpikir atas apa yang sudah diketahuinya. Inilah kenapa meskipun kita makan pecel setiap hari bisa tidak bosan jika dalam proses makan itu ada proses dialog antar anggota keluarga. Begitu juga dengan proses pembelajaran ini, maka meminta siswa untuk mengungkapkan gagasannya akan memunculkan proses pembelajaran yang segar dan tidak membosankan.

Sementara itu, pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dengan proses keseimbangan antar siswa. Ini bukanlah kerja kelompok biasa, melainkan kerja kelompok yang disusun atas tiga prinsip utama; ketergantungan positif, tanggungjawab indiviu, dan keterampilan sosial. Tidak boleh ada dominasi siswa dalam kelompok ini. Mereka harus menyumbangkan ide dan pembagian tugas yang jelas.

Akhirnya proses pembelajaran disekolah baik yang sifatnya yang mengantarkan siswa pada tugas seorang hamba dan tugas pada seorang wakil dimuka bumi yang ada dalam era digital ini dapat dilakukan dengan pendekatan dialogis dan pembelajaran koooperatif. Pendekatan dan model belajar ini akan mampu mengfasilitasi siswa dalam belajar didalam kelas yang tidak membosankan tetapi akan mampu menjadikan dirinya sebagai insan yang selamat, manfaat, dan membawa kenikmatan dunia akhitat.

Tulisan ini dimuat di times indonesia edisiRabu, 2 Agustus 2017 https://www.timesindonesia.co.id/read/153363/20170802/170027/mendidik-siswa-di-era-digital/