Dalam disnatalis ke 37 Unisma termasuk

kampus NU terbesar di dunia.

“Kata Maskuri Rektor UNISMA” Mendapat

tanggapan manis dari para tamu yang dari

luar negeri Dengan rasa Islam Nusantara

yang muderat.

Unisma, Fenomena Ulang tahun yang ke 37 Universitas Islam Malang (UNISMA), telah mempersembahkan beberapa kegiatan, disnatalis Unisma yang ke 37 agenda terbesarnya ialah Internasional Conference dengan tema “Islam Nusantara, National Integrity, and World Peace”, pada Selasa-Rabu 27-28, tahun 2018. Di Lantai 7 Pascasarcana Unisma. Kegiatan ini mendatangi pemateri sebagai klarifikasi tentang penarapan Islam Nusatara di Unisma, yaitu dari negara Jerman, Timur Leste, Brunai Darussalam, serta Australia. Rangkaian kegiatan ini ada plenary sassion  yang akan mempresentasikan hasil perancangan pembuatan tesis atau artikel mahasiswa yang mengikuti sebagai prenseter.

Kegiatan ini juga dibuka oleh Rektor Universitas Islam Malang Prof. Dr. Maskuri M.Si sebagai acara puncak dari beberapa kegiatan. Dalam sambutannya “ingin selalu menegembangkan Unisma sebagai kampus terbesar Nahdatul Ulama (NU) di kancah nasional bahkan internasional, serta memperkenalkan bahwa penerapan islam nusantara memberikan dampak besar di Indonesia serta dunia”. Dihadapan para tamu undangan pemateri serta peserta Conference Internasional, dengan percaya diri dalam sambutannya.

Dalam adanya kegiatan ini mahasiswa, dosen, serta para staf di Unisma mampu termotivasi serta manjadikan perbandingan dengan kampus-kampus di luar Unisma sehingga banyaknya refrensi dalam membangun Unisma memiliki kakuatan sebagai kekuatan bersama bekerja bersama dengan tujuan sama. “untuk menyebar luaskan Islam nusantara dikancah nasional serta di internasional. Karena Islam Nusantara ini rahmatallil alamin”. Ujar Prof. Azurmsdi Azra UIN Syarifhidayatulloh Jakarta.

Pada kegiatan yang sama apa yang di sampaikan oleh Dr. Adam Bin Haji Jait dari Unissa Brunai Darussalam. Brunai Darussalam bercerita dan menyampaikan tentang konsep “Islam dan Penyebaran”, dengan penyebaran melalui teknologi internet dan media sosial. Di Brunai Darussalam agama Islam adalah agama resmi, untuk cara menyebarkannya sangat luas, karena banyak media yang digunakan salah satunya menggunakan media website media terbesar untuk mendakwah melalui wabsite resminya menteri di Brunai. Karena dengan mudah akan proses belajar mengajar yang dianggap itu lebih efektif. Banyak perbedaan yang ada dengan negara Indonesia dari sistem dan tata cara mengembangkan pendidikan lebih luas.

Kebanggan yang dirasakan oleh Dr. Adam pada Indonesia diluapkan melalui planarry sesion II dalam penyampaiannya “Indonesia negara hebat dan negara besar, ketika Indonesia ada guncangan/konflik maka negara tetangga dan negara lain akan ikut merasakan, dengan banyaknya suku dan budaya, etnis, agama Indonesia masih saja aman dengan sikap toleransi dan kebhinikaan masih terjaga ” ucap pada penyampaiannya. Bahwa dalam hidup beragama sangat jauh berbeda dengan yang ada di Brunai, walaupun di Brunai termasuk penganut sekularisme maka agama Islam masih menjadi mayoritas. Serta Islam di sana hanya memiliki mashab satu yaitu Imam Syafii. Masih saja harus berbangga kepada penerapan Islam nusantara yang rahmatallil alamin, khususnya pembentukan karakter di Unisma dengan selogan khas “Dari NU Untuk Peradapan Dunia”. (Akh)