FKIPKU FKIP ANDA FKIP KITA: Meneguhkan Aswaja sebagai Manhaj Al-fikr menuju FKIP Unisma yang Tangguh dan Berwibawa  (Refleksi Hari Ulang Tahun FKIP Unisma ke-36)

 Oleh: Muhammad Yunus

Usia yang tidak lagi muda, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (FKIP Unisma) dituntut untuk merefleksikan perjalanan yang sudah dilaluinya sembari memantapkan visi dan misinya dimasa yang akan datang. Dua sikap ini jika dilakukan secara simultan oleh civitas akademika Unisma akan mampu mengantarkan FKIP Unisma semakin hebat, tambah jaya. Sikap untuk selalu muhasabah atas waktu yang sudah lewat, dan sikap secara terus menerus melakukan inovasi dan kreativitas. Sikap inilah yang dikenal dengan “al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Inilah cita-cita FKIP Ku FKIP Anda dan FKIP Kita.

FKIP Kita ini didirikan pada tanggal 10 Mei 1981 dengan pimpinan pertama waktu itu oleh Bapak Drs. H. R. Umar Wirasno dengan empat jurusan yang dimilikinya; Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan. Sejauh ini sudah berjalan delapan pimpinan FKIP Unisma mulai dari Bapak Drs. H. R. Umar Wirasno, Bapak Drs. Achmad Martono, Bapak Drs. Kusnan Adi, Bapak Dr. H. Mochtar Data, M.Pd., Ibu Dr. Hj. Luluk SAP, M.Pd., Bapak Drs. H. Mustangin, M.Pd., Bapak Dr. H. Nur Fajar Arief, M.Pd., dan terakhir sekarang masih memimpin Bapak Dr. Hasan Busri, M.Pd. Beliau semua adalah orang-orang hebat yang sudah berjuang mulai dari melatakkan pondasi berdirinya, perkembangannya, sampai pada tahapan inovasi-inovasi terakhir. Perjuangan beliau semua harus tercatat dalam sejarah ingatan kita, dan yang paling penting untuk lembaga adalah visi dan misi yang senantiasa berkelanjutan dari waktu kewaktu.

Kokoh berdiri selama 36 tahun tentunya tidak pernah lepas dari suka dan duka perjuangan, namun semua itu dapat terlalui karena semangat dan ideologi yang senantiasa dipegang teguh; kekeluargaa, kejujuran, dan keikhlasan. Beliau-beliau semua pasti selain mempunyai kapasitas individu yang hebat juga didukung dengan kemauan untuk memajukan FKIP Unisma ini. Tidak heran saat ini jurusan yang ada sudah terakreditasi dengan nilai B, dan pencapaian yang paripurna untuk Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan nilai akreditasi A. Oleh karenanya sebagai warga FKIP Unisma kita mesti selalu melihat sejarah sebagai apresiasi atas prestasi yang sudah didapat oleh para senior seraya memikirkan masa depan FKIP Unisma berdasar visi Unisma yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah ini. Lantas seperti apakah FKIP kita ini mesti dibawa.

Sebagai Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) yang mendidik calon guru yang professional dan berakhlakul karimah, FKIP kita ini senantiasa menjalankan tiga darma utama (tridharma perguruan tinggi) yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kesungguhan dan ketuntasan dalam menjalankan tiga darma utama ini akan memposisikan FKIP kita menjadi fakultas bereputasi. Sebaliknya, lalai atas tiga tugas utama itu menjadikan LPTK kebanggan kita ini tidak diperhitungkan. Sehingga dalam menjalankan kesungguhan dan ketuntasan pada setiap pekerjaan harus didukung dengan manajemen yang baik serta jiwa keikhlasan. Untuk itu dibutuhkan nilai-nilai dasar sebagai ruh perjuangan yaitu menerjemahkan serta mewujudkan visi dan misi Unisma sebagai payung gerakan civitas FKIP  yang didalamnya mencantumkan teks Aswaja. Dalam konteks tulisan ini aswaja tidak dipandang sebagai bentuk ideologi ketauhidan dalam beragama yang dibawah oleh Imam Al Asyari dan Imam Al Maturidi, melainkan aswaja sebagai manhaj alfikr (metodologi berfikir) sebagai landasan perjuangan, bekerja, melakukan tridharma perguruan tinggi menuju FKIP Unisma menjadi the leading pre-service teacher training.

Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi dijelaskan bahwa ada tiga standar utama yaitu Standar Nasional Pendidikan, Standar Nasional Penelitian, dan Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat. Jika dicermati ketiga standar nasional itu dalam rangka mengantarkan mahasiswa sebagai core business FKIP Unisma untuk memenuhi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dengan tiga rumusan utama; sikap, pengetahuan, keterampilan khusus, dan keterampilan umum, maka sejatinya tugas yang diemban oleh civitas FKIP Unisma tidak mudah dan ringan. Rumusan semangat juang dibutuhkan agar Kawah Candradimuka ini tetap berkelanjutan serta tetap mempertahankan mutunya. Disinilah aswaja sebagai manhaj al-fikr menemukan siknifikansinya.

Aswaja sebagai manhaj al-fikr setidaknya terdiri dari lima nilai utama: tawasuth (seimbang/moderat), i’tidal (adil), tawazun (harmoni), tassammuh (toleran), dan tasyawur (sikap ideologis) (Tholhah Hasan, 2017). Nilai-nilai ini harus menjadi karakter warga FKIP Unisma yang dalam hemat penulis mampu mengantarkan trilogi perjuangan Unisma; keikhlasan (karakter keislaman), kejujuran (karakter ilmiah), dan kebersamaan (karakter ke-Indonesia-an).

Pertama adalah Tawasuth yang bermakna seimbang. Para civitas FKIP Unisma dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi haruslah mempunyai  kesimbangan menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tiga dharma ini haruslah lingkaran yang sama. Jika salah satu atau salah duanya adalah lingkaran yang lebih besar maka akan berakibat ketidakseimbangan pengelolahan. Terlalu besar pada lingkaran pendidikan (teaching), fakultas ini hanya akan menjadi Teaching University. Terlalu berkonsentrasi pada teaching dan research melupakan pengabdian akan menjadi Research University. Sementara imbang pada ketiga lingkaran (teaching, research, dan service) akan mengantarkan menuju Entrepreneurial University. Inilah paradigm baru klasifikasi perguruan tinggi yang menurut Muhammad Bisri (2016) dapat mengantarkan daya saing dan mutu pendidikan (tangguh dan berwibawa). Ibarat sebuah pecahan, ketiganya dapat dijumlahkan jika mempunyai penyebut yang sama. Maka FKIP kita ini akan mampu menjumlahkan ketiga dharma tersebut jika penyebutan tiga dharma itu sama. Disinilah pentingnya ada pembatasan dosen untuk tidak mengampuh matakuliah berlebih. Sehingga konsentrasi pada penelitian dan pengabdian dapat dilakukan dengan baik.

Kedua adalah I’tidal yang berarti adil. Adil dalam hal ini dalam bentuk pelayanan fakultas kita ini kepada para mahasiswa. FKIP Kita harus mampu mengantarkan seluruh mahasiswa yang mengeyam pendidikan kurang lebih 1200 mahasiswa menjadi lulusan yang berdaya saing, bermutu, kreatif inovatif, dan produktif. Seorang lulusan yang mampu tidak hanya memanfaatkan peluang, tetapi juga mampu menciptakan peluang. Sebagai produsen human capital (SDM), FKIP Unisma harus mampu mengantarkan para mahasiswanya menuju lulusan yang ideal tersebut (calon guru professional dan berakhlakul karimah). Pelayanan yang prima, pemenuhan kebutuhan dasar mahasiswa, ruang dan gerak ekspresi mahasiswa sebagai bentuk aktualisasi seorang agent of education, agent of research, agent of culture, knowledge technology transfer, dan agent of economic development harus dibuka krannya lebar-lebar. Mahasiswa harus disediakan mainan untuk menyalurkan ekspresinya sehingga segala potensi, bakat, dan minat yang ada pada dirinya tersalurkan dengan baik. Seorang dosen dan pimpinan FKIP Unisma ini harus mampu mengukur kemampuan mahasiswa tidak hanya pada aspek inteligensi semata, tetapi harus mampu melihat kecerdasan ganda yang dimilikinya (bahasa, spasial, music, interpersonal, intrapersonal, logika-matematika).

Konsep tawazun (harmoni dan moderat) dan tassammuh (toleran) menjadi keunggulan warga FKIP Unisma dalam rangka memerankan Islam rahmatal lil alamin. Bahaya disintegrasi bangsa saat ini yang disinyalir diakibatkan oleh paham radikalisme keagamaan. Istilah sumbu pendek dan sumbu panjang turut melabelin dua paham keagamaan di Indonesia. Sumbu pendek diklaim sebagai mereka yang tidak moderat dan anti toleransi (lahir dari kelompok literalis (skriptualis). Sementara sumbu panjang mereka yang senantiasa tidak grusa grusu, berpikir panjang, serta moderat dan toleran (lahir dari kelompok transformative). Dalam kondisi kebhinekaan Indonesia inilah pemikiran warga FKIP Unisma sangat cocok memerankan diri guna mendukung Unisma sebagai kampus yang membentuk mahasiswanya menjadi lulusan yang bersumbu panjang. Apalah artinya membangun peradaban jika kondisi masyarakat tidak rukun. Betul adanya jika Unisma meneguhkan sebagai kampus NU untuk Indonesia dan Peradaban Dunia yang sudah menjadi prasasti kampus kebanggaan NU ini. Konsep mendasarnya terletak pada pengembangan pola pikir tawazun dan tassammuh.

Terakhir FKIP Unisma akan tangguh dan berwibawa jika fakultas kita ini, elemen yang ada didalamnya senantiasa mempunyai jiwa ideologis (tasyawur) akan amar ma’ruf nahi mungkar. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh civitas akademika FKIP Unisma akan selalu disandarkan pada penghambaan kepada Allah SWT. Inilah inti dari perjuangan, yaitu keikhlasan. Tiga dharma utama di Unisma ini akan senantiasa dilakukan dengan baik dan benar. Baik dari sisi hasilnya, dan benar sesuai dengan kaidah, SOP, dan ajaran agama. Contohnya, dalam melakukan proses pembelajaran senantiasa memenuhi target pertemuan dan materi yang harus disampaikan. Dalam konteks penelitian tidak memark-up anggaran. Dalam konteks pengabdianpun dilakukan dengan sungguh-sungguh. Alangkah indahnya jika semua pekerjaan disandarkan pada Allah. `Maka semua pekerjaan akan bernilai ibadah, dan korelasinya pada peningkatan kinerja yang semakin baik dan bermutu. Jiwa ideologis akan mampu mengantarkan pada kesungguhan warga FKIP kita bekerja dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian civitas FKIP akan terus berkomitmen pada proses yang terbaik “FKIP Unisma is not in the best input, but it is in the best process” sehingga akan menjadikan fakultas kita ini berada dalam koridor yang benar.

Akhirnya, FKIP Kita yang akan genap berusia 36 tahun pada 10 Mei 2017 mendatang akan terus maju dan maju, tambah hebat, dan semakin jaya dalam koridor yang benar (sesuai visi Unisma) serta mempunyai lululusan yang professional dan berakhlakul karimah jika civitasnya sungguh-sungguh dan tuntas dalam menjalankan setiap amanah yang diberikannya sembari berpegang teguh pada nilai-nilai Aswaja yang tidak hanya sebagai landasan teologis tapi juga sebagai manhaj al fkir dalam setiap gerak gerik civitas dalam mengabdikan dirinya di FKIP Kita ini.