FKIP UNISMA: PENEGUH AKAR DAN PEMINTAL BENANG KEINDONESIAAN

Oleh: Ari Ambarwati

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon
Hubbul Wathon minal Iman

Wala Takun minal Hirman, Inhadlu Alal Wathon

Penggalan lagu Syubanul Wathon yang dikumandangkan oleh calon wisudawan, dosen, karyawan dan seluruh undangan acara Pelepasan Calon Wisudawan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma) Periode 57, 21 April 2017, terdengar spesial. Syair yang dilantunkan itu menjadi pengingat bahwa FKIP adalah Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) berkarakter Islam Ahlusunnah Wal Jama’ah (Aswaja) yang melakoni ajaran dan amalan Nahdlatul Ulama (NU), pengemban laku Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.

FKIP Unisma, yang lahir pada 10 Mei 1981, telah berkiprah selama 36 tahun di panggung dunia pendidikan Indonesia. Hampir empat dekade, Fakultas pencetak insan pendidikan ini menjadi saksi bagaimana dinamika, pergulatan, serta dialektika pendidikan negeri ini dibangun, dinarasikan, diwacanakan, serta diproduksi. Narasi-narasi pendidikan dan keguruan yang dikunyah FKIP tidak semata di wilayah nasional, tetapi juga narasi, teks, dan wacana pendidikan dan keguruan impor yang beredar di tataran global, sebagai konsekuensi pergaulan lintas Negara yang dijalani para akademisi FKIP.

Di tangan akademisi mumpuni yang mampu menerjemahkan, mengadopsi, mengadaptasi, serta mengaplikasikan narasi, wacana, dan teks Barat di lingkungan kampus FKIP Unisma, lahirlah para generasi pendidik yang cakap membaca dan memahami konstelasi pergerakan pendidikan global. Pun pendidik yang berkomitmen meneguhkan laku tiga karakter dasar NU yaitu tawassuth (moderat, tidak ekstrim kanan maupun kiri), tawazun (seimbang), dan I’tidal (tegak lurus/adil), dan mengedepankan sikap tasamuh (toleran). Pertanyaan berikutnya, cukupkah bekal pengetahuan dan pemahaman terhadap pendidikan dan profesi keguruan global dan akhlak yang baik untuk menghadapi tantangan FKIP Unisma di masa depan? Isu termutakhir apa yang harus dicarikan solusinya demi menghasilkan insan guru, praktisi pendidikan, pegiat bahasa, sastra, dan budaya yang lebih profesional, mumpuni dan adaptif di era mendatang? Bagaimana menempatkan posisi FKIP dalam konteks Unisma sebagai kampus Multikultural? Pun dalam relasi Negara bangsa Indonesia yang plural di tengah menguatnya segregasi ‘relijius’ dalam laku berbangsa akhir-akhir ini? Menurut hemat penulis, kembali ke akar sebagai manusia Indonesia melalui literasi keindonesiaan, strategis untuk diupayakan.

Literasi dan Akal Sehat

Literasi adalah kecakapan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas, Unesco dalam deklarasi Alexandria (2005) bahkan menggarisbawahi pentingnya literasi informasi sebagai salah satu kecakapan yang harus dikuasai dalam era milenial. Literasi informasi adalah kemampuan melakukan manajemen pengetahuan dan kecakapan untuk belajar terus menerus.

Derasnya kucuran informasi di dunia maya menjadikan warga Indonesia sontak bermigrasi sebagai warganet (Netizen: internet citizen). Dwi ‘kewarganegaraan’ ini memberi konsekuensi yang tidak mudah dan murah. Informasi yang melimpah ruah, yang bisa dibaca, disimak, dan diunduh kapan saja dan di mana saja selama warga terkoneksi dengan internet, menantang warganet untuk bijak mengelola informasi. Kompetensi ‘dwi kewarganegaraan’ menjadi penting untuk dikuasai segenap pimpinan, dosen, karyawan, mahasiswa, dan khalayak ramai yang menjadi mitra FKIP Unisma.

Sebagai institusi yang mempunyai sederet praktisi dan pegiat pendidikan, FKIP berperan untuk menciptakan, mengondisikan, serta menghasilkan lingkungan yang literat. Lingkungan yang memungkinkan para penghuninya cerdas dan cermat memproduksi, mengelola, dan menyebarluaskan informasi. Lingkungan yang literat juga mensyaratkan para penghuninya terbiasa mengecek sumber informasi, kritis, skeptis, dan tidak terburu-buru menyebarkan informasi, hingga diketahui informasi tersebut valid dan bukan tergolong sebagai informasi palsu (hoax). Selanjutnya, lingkungan literat berkontribusi penuh pada iklim akademik yang senantiasa berkhidmat pada akal sehat.

Gerakan literasi informasi pengetahuan yang berkhidmat pada akal sehat dapat diwujudkan melalui forum-forum diskusi dan kajian ilmiah yang diselenggarakan di tingkat Fakultas. Forum diskusi dan kajian dapat memanfaatkan informasi dan pengetahuan di berbagai media multiplatform (radio, media cetak, TV, media sosial, youtube). Berita terkait pendidikan, pengajaran, pembelajaran, keguruan dengan berbagai spektrumnya dapat dijadikan materi yang diulas tiap dua minggu sekali. Kajian dan diskusi ilmiah tersebut dapat diselenggarakan dengan melibatkan mahasiswa dan menjadi tugas untuk matakuliah tertentu. Pusat Studi Literasi (PSL) yang dimiliki FKIP dapat didayagunakan untuk memetakan dan memerikan materi-materi diskusi dan kajian yang dapat ditindaklanjuti sebagai bahan penelitian unggulan. Selanjutnya, skala diskusi dan kajian dapat diperluas. FKIP Unisma dapat menjadi rumah bagi pegiat pendidikan dari seluruh penjuru negeri untuk berbagi pengetahuan dan informasi yang akan memperkuat jejaring, yang pada gilirannya dapat menempatkan FKIP Unisma sebagai ‘pemain utama’ di kancah pendidikan  yang mampu memengaruhi pembuat kebijakan baik di tingkat nasional, maupun internasional.

Literasi Keindonesiaan dan Laku Ki Hadjar Dewantara

Hal berikutnya yang harus menjadi pehatian dan fokus FKIP Unisma adalah literasi keindonesian. Literasi keindonesiaan adalah kesadaran untuk kembali menengok ajaran, pengetahuan, kebijaksanaan, nilai, dan laku sebagai manusia Indonesia untuk kemudian dipraktikkan dalam gerak langkah sehari-hari. Di bidang pendidikan, Indonesia mempunyai pejuang mumpuni dan pendiri Taman Siswa yaitu Ki Hadjar Dewantara (KHD). Sebagai pendidik, ia menekankan pentingnya mengasah kecerdasan budi. KHD menyatakan bahwa mengasah kecerdasan budi dapat membangun budi pekerti sehingga menghasilkan kepribadian (persoonlijkhheid) yang baik. Pengasahan kecerdasan akal budi saat ini dikenal sebagai pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah akar masalah bangsa ini. Memaknai kembali pendidikan karakter yang sudah diapungkan KHD adalah kehendak yang harus disemai dan dirawat bersama, khususnya bagi institusi pendidikan sekelas FKIP Unisma.

Meski KHD besar dalam lingkup pendidikan Barat dan berdialektika dengan pemikiran-pemikiran para pendidik kelas dunia seperti Johann Heinrich Pestalozzi, Friedrich Frobel, serta Maria Montessori, ia tetap meneguhkan ajarannya dalam bingkai Indonesia. Bagi KHD, pendidikan di Indonesia harus berpegang pada Trikon, yakni kontinyu dengan alam masyarakat Indonesia, konvergen dengan alam luar (untuk bersatu dengan alam universal), dan penyatuan konsentris dengan tetap menjadi diri sendiri. Bukankah laku Trikon ini sejalan dengan prinsip Hadratussyekh Kiai Hasyim Asyari yakni Hubbul wathon minal Iman (Tak lengkap iman seseorang jika tidak mencintai Tanah Airnya)? Kegigihan KHD memajukan warga bangsa melalui pendidikan adalah wujud cinta tanah air yang sungguh-sungguh.

Trikon KHD kini menjadi barang langka. Perguruan Taman Siswa tak mampu bergerak sendiri menyuarakan kembali ajaran-ajaran KHD yang tetap relevan sepanjang masa. Bahkan di Pendidikan Tinggi, ajaran KHD yang termuat dalam kitab dan referensi Majelis Luhur Taman Siswa Indonesia tidak lagi ditengok, dikaji, dan direvitalisasi. FKIP Unisma harus mengambil peran sebagai motor penggerak untuk memaknai kembali ajaran KHD. Pemikiran KHD yang sangat dekat dengan realitas kebangsaan Indonesia tidak boleh berhenti di rak-rak buku perpustakaan sekolah dan kampus, seminar-seminar dan seremoni Hari Pendidikan Nasional 2 Mei semata.

Pemikiran dan ajaran KHD sebaiknya dikaji secara mendalam, dinarasikan, dideskripsikan, dan dimaknai secara kontekstual untuk mencari jawaban atas karut marutnya kondisi pendidikan nasional sekarang ini. Profil KHD seharusnya menjadi teladan bagaimana laku sosok pendidik diperankan. KHD mengajarkan bagaimana menundukkan narasi, teks, wacana Barat untuk ditulis ulang dalam konteks keindonesiaan, bahkan Islam. KHD membuktikan bahwa kaum muslim terpelajar seharusnya bergerak dengan tuntunan ajaran Islam dalam bingkai keindonesiaan yang majemuk. Melalui gerak itu, jati diri dan identitas sebagai muslim Indonesia yang pendidik, pengajar, praktisi pendidikan dengan beragam spektrumnya terpola dan terbentuk dengan paripurna. Bukankah Nabi Muhammad SAW bersabda agar umat Islam tak menyerupai (tasyabbuh) umat lain? Sabda tersebut bisa dibaca dalam kerangka peneguhan jati diri dan identitas umat.

Jika Finlandia, Negara nomor satu dalam bidang pendidikan menerapkan prinsip yang hampir sama dengan ajaran KHD (standardisasi kaku dan berlebihan merupakan musuh kreativitas dan menghargai keunikan peserta didik—tak mungkin pendidik mengubah padi menjadi jagung dan sebaliknya), lalu mengapa FKIP Unisma tidak segera mengaktualisasikan ajaran dan pemikiran KHD di ruang kelas, buku ajar, buku referensi, forum kajian, diskusi, penelitian mahasiswa dan dosen? Mengapa FKIP Unisma tak bergegas mengkaji keunggulan model pembelajaran ala pesantren Bandongan dan sorogan? Misalnya, atau pembelajaran peserta didik yang berkarakter maritim, perkebunan, pegunungan, pembelajaran untuk masyarakat agraris, pengajaran bagi masyarakat urban? Dan bahkan semua pembelajaran bercorak Indonesia. Bukankah mimpi mementaskan FKIP Unisma di panggung pendidikan Indonesia dan dunia harus dirajut mulai saat ini? Maka teguhkanlah akar dan pintal benang keindonesiaan di ruang-ruang perkuliahan, naskah akademik, kertas-kertas kerja, dan proposal penelitian, mulai hari ini juga. Dirgahayu FKIP Unisma!