Stampede Hoax

//Stampede Hoax

Stampede Hoax

Muhammad Yunus

Apa yang akan akan saudara lakukan jika tiba-tiba ada segerombolan hewan (sapi, kuda, atau semacamnya) berlari kearah saudara secara bersamaan (dalam istilah bahasa Inggris disebut stampede)? Menghalangnya dengan membalikkan badan kearah hewan-heeewan tersebut? Ikut berlari bersama segerombolan hewan tersebut? atau berlari searah dengan hewan sambil mencari cara keluar dari kerumunan hewan tersebut? Pastinya setiap orang mempunyai jawaban atas pilihan yang akan diambilnya yang setiap pilihan itu pasti mempunyai konsekuensi masing-masing.

Analogi tersebut sepertinya sama dengan gelombang hoax yang melanda bangsa Indonesia saat ini. Terlebih pada saat-saat tahun politik seperti sekarang ini. Hoax tidak terelakkan. Datangnya tidak diundang. Pulangnya tidak diantar. Mirip jailangkung dalam film-film horror. Setiap orang yang punya smartphone lengkap dengan paket datanya, pasti pernah menerima konten-konten hoax. Baik tua atau muda, akademisi atau tukang sayur, ulama atau awam, terpelajar atau preman, tidak pandang gender, status sosial, pasti pernah menerima konten hoax. Lantas apakah menelannya, membalasnya, atau mencoba mencari kebenaran konten tersebut? inilah pilihan yang penuh konsekuensi dan tentu ada yang cerdas pasti penentuan pilihannya juga cerdas.

Sebagai info dulu, kurun waktu Agustus-Desember 2018, Kementerian Informasi dan Komunikasi mencatat 62 konten hoax yang didominasi terkait pelaksanaan pemilu 2019 (lihat detik.com edisi 2/1/2019 pukul 17.05). Tiada bulan yang terlewati hoax. Agustus 2018 ada 11 konten hoax, September 8 konten, Oktober 12 konten hoax, November 13 konten hoax, dan Desember sebagai bulan pemungkas ada 18 konten hoax. Dapat dipastikan bulan-bulan kedepan selama 2019 ini konten hoax akan tambah  ramai.

Kembali pada pilihan, maka sebagai warga Negara yang baik, jika akan menang dari konten hoax, apakah ketika menerima konten informasi akan membaca dan berhenti seperti membelokkan badan pada segerombolan hewan yang datang berlari pada arah kita? Atau ikut berlari bersama bersama hewan dalam artian ikut meramaikan sebuah konten yang diterima? Atau mengikuti arah segerombolan hewan saraya mencari jalan keluar dari segerombolan hewan seperti membaca berita seraya mencari kebenaran informasi yang ada. Pilihan yang bijak sepertinya ada pada pilihan ketiga ini. Setidaknya penulis sendiri mengambil pilihan yang ketiga ini dengan beberapa alasan.

Pertama, pilihan ketiga adalah pilihan berdasarkan kaidah fiqh media social. Jika berita itu baik tapi tidak baik untuk orang lain maka hentikan. Jika berita itu tidak baik maka hentikan. Jika berita itu baik dan baik untuk orang lain teruskan.

Kedua, pilihan ketiga adalah pilihan masyarakat yang mengedepankan tabayun. Tabayun adalah mencari kebenaran informasi yang ada. Hal ini senantiasa dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, pilihan ketiga adalah pilihan masyarakat dengan ciri tingkat literasi yang tinggi. Artinya masyarakat yang senantiasa tidak terjebak pada satu informasi yang ada. Tentu alasan ketiga ini besar kaitannya dengan ciri nomor satu dan kedua.

Semoga stempade hoax yang saat ini sedang melanda Indonesia dapat kita sikapi dengan cerdas sehingga kita mampu keluar dan tidak terjebak pada konten hoax tersebut. karena sadar atau tidak hoax adalah bagian dari fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Orang jujur dan berhati bersih tidak mungkin membuat konten hoax. Jadi yang bikin konten hoax pasti…tahu sendiri jawabannya.

Muhamamd Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (FKIP Unisma) 

Tulisan ini pernah dimuat di timesindonesia

https://www.timesindonesia.co.id/read/195207/20190104/123528/stampede-hoax/

2019-01-14T00:16:21+00:00
العربية العربية English English Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia