PENERAPAN TUTOR SEBAYA DALAM BELAJAR ENGLISH GRAMMAR DAN PERANANNYA DALAM TURUT SERTA MEMBANGUNKARAKTER ISLAMI SISWA

 Henny Rahmawati

Universitas Islam Malang

msrahma.unisma@yahoo.com

Abstrak

Grammar merupakan salah satu subskillyangdijadikan sebagai mata kuliah di tingkat perguruan tinggi seperti halnya di Universitas Islam Malang yang wajib diikuti mahasiswa pendidikan bahasa Inggrisselama tiga semester berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya belajar tata bahasa dalam proses belajar bahasa Inggris meskipun masih banyak diperdebatkan keefektifannya di kalangan para ahli bahasa.Dengan mengesampingkan perdebatan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memudahkan siswa dalam belajar grammar yang sekaligus membangun karakter positif mereka dalam belajar. Berdasarkan data yang terkumpul melalui kuesioner,nilai pretest dan posttest, observasi dan interviu didapatkan bahwa penerapan tutor sebaya dalam pembelajaran grammarmampu membangun suasana yang kondusif dalam belajar. Selain itu, belajar dengan tutor sebaya dinilai mampu membangun karakter positif siswa yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

 

Kata kunci: tutor sebaya, English Grammar, karakter islami

Pendahuluan

Dalam proses belajar mengajar, seorang pengajar atau pendidik dituntut mengarahkan interaksi siswa baik dengan sesama siswa, dengan peserta didik, maupun dengan sumber belajar dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, banyak metode yang bisa diterapkan. Metode yang diterapkan dalam kelas harus minimal mampu meminimalisir permasalahan yang ada atau bahkan memberikan solusi dari permasalahan tersebut. Dengan terpecahkannya permasalahan di kelas maka suasana belajar di kelas menjadi kondusif dan pada akhirnya tujuan pembelajaran akan tercapai. Tercapainya tujuan pembelajaran selain bisa dilihat dari nilai siswa, juga bisa dilihat dari situasi kelas dan juga efek jangka panjang dari pembelajaran itu sendiri terhadap karakter siswa.

Dalam penelitian ini, penulis bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul pada kelas Grammar III menggunakan metode pembelajaran teman sebaya yang sekaligus mengajarkan pendidikan karakter islami kepada siswa. Dengan demikian, dari hasil penelitian ini diharapkan tercapainya tujuan pembelajaran yang sekaligus menanamkan karakter islami pada siswa sehingga dalam jangka panjang terbentuklah penerus-penerus bangsa yang pintar dan berkarakter islami. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat istilah-istilah yang dipakai di penelitian ini.

English Grammar

Dalam bahasa Inggris, Grammar secara bahasamerupakan tata bahasa atau struktur yang dipakai sebagai acuan dalam menulis tulisan berbahasa Inggris yang meliputi struktur kata, frasa, klausa, dan kalimat (Ronald C., McCharty, & Michael, 2006). Sedangkan dalam penelitian ini yang dimaksud dengan grammar adalah materi yang diajarkan pada mata kuliah Grammar III khususnya materi TOEFL preparation yang di dalamnya terdapat beberapa bab diantaranya adverb clause, noun clause, dan adjective clause yang di dalamnya terdapat beberapa subbab.

Agar tercapai tujuan pembelajaran,pengajar harus mengetahui permasalahan pada kelas yang diampu. Dengan mengetahui permasalahan di kelas, solusi terbaik bisa diterapkan dalam proses belajar mengajar sehingga akan tercipta situasi yang kondusif dalam belajar. Sebagaimana dijelaskan di atas, metode yang diterapkan dalam pembelajaran; penerapan metode harus disesuaikan dengan permasalahan yang ada di kelas.

Untuk mengetahui permasalahan yang ada di kelas, diberikan kuesioner kepada 22 siswa yang mengambil mata kuliah Grammar III, penulis menemukan beberapa masalah dalam pembelajaran grammar yang pada intinya permasalahan yang mereka hadapi antara lain 1) kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan oleh dosen; 2) rasa enggan dan canggung untuk bertanya karena kurangnya percaya diri untuk bertanya kepada pengajar ; 3) bingung ketika belajar grammar sendiri; dan 4) tingginya tingkat kecemasan siswa ketika tidak memahami materi yang disampaikan pengajar. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis memilih pembelajaran dengan tutor sebaya sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan di kelas.

Selain kuesioner, siswa juga diminta untuk mengerjakan pretest untuk mengetahui kemampuan awal mereka dan juga sebagai acuan dalam memilih tutor. Dari hasil pretest, diketahui bahwa ada 15 siswa atau 68% dari 22 siswa dengan nilai kurang dari 70; dari 15 siswa tersebut, 13 siswa dengan nilai kurang dari 50. Berdasarkan hasil pretest tersebut bisa diketahui bahwa pemahaman mereka tentang English grammar masih kurang dari target minimal yang diharapkan.

Berdasarkan permasalahan yang ada, baik dari hasil kuesioner ataupun hasil pretest, maka penulis memilih untuk menggunakan metode pengajaran grammardengan tutor sebaya sebagai solusi yang diharapkan mampu menyelesaikan masalah yang muncul di kelas tersebut.

Pembelajaran Tutor Sebaya

Pembelajaran tutor sebaya merupakan pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil dengan seorang tutor yang tingkat pemahaman materinya lebih tinggi memberi bantuan kepada anggota kelompoknya yang kurang dalam pemahaman materi. Dalam memilih seorang tutor, selain berdasarkan tingkat pemahaman juga berdasarkan tingkat percaya diri siswa dan kemampuan berinteraksi dengan sesama teman (B. Bozeman & M. K. Feeney, 2007). Selain memilih seorang mentor, pengajar juga menentukan anggota dalam setiap kelompok. Pemilihan anggota dalam satu kelompok yang berdasarkan kesamaan umur, latar belakang, dan jenis kelamin menentukan keefektifandiskusi dalam kelompok (B. Bozemen & M.K. Feeney, 2008).

Pembelajaran dengan metode tutor sebaya dinilai mampu menghilangkan kecanggungan dan tingkat kecemasan siswa dibandingkan dengan penyampaian materi oleh pengajar. Hal ini disebabkan belajar dengan teman sebaya dinilai mampu mengurangi tingkat kecanggungan dalam bertanya; tidak kalah pentingnya pembelajaran dengan metode ini juga mampu mengurangi kecemasan siswa dalam proses belajar yang biasanya ditimbulkan karena kurang pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan. Disamping itu bahasa yang digunakan juga lebih mudah dipahami, dan di antara mereka tidak ada rasa segan, rendah diri dan malu untuk bertanya dan mengungkapkan kesulitan mereka dalam belajar. Dengan demikian, proses belajar dapat berjalan lebih efektif. Bagi tutor, pembelajaran ini juga mempunyai nilai positif; mengajarkan materi merupakan salah satu cara belajar yang efektif untuk menanamkan pemahaman yang lebih mendalam. Ketika berdiskusi, selain pemahaman tutor yang semakin tertanam, pengetahuan mereka juga akan semakin meluas.

Dalam pembelajaran tutor sebaya, ada beberapa hal yang merupakan ciri khas dari metode belajar ini, antara lain 1) kelompok kecil dengan satu tutor dan beberapa anggota; 2) kesadaran masing-masing anggota untuk saling berinteraksi antar anggota dalam kelompok kecil serta saling bergantung dalam memenuhi kebutuhan; 3) mempunyai tujuan bersama dalam menyelesaikan permasalahan; 4) bekerja bersama dalam tim.Dalam pembelajaran tutor sebaya,peran pengajar adalah: 1) sebagai pengatur kegiatan belajar-mengajar; 2) sebagai sumber informasi bagi siswa; 3) sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar; 4) mendiagnosa kesulitan siswa; 5) penyedia materi dan kesempatan belajar bagi siswa.

Karakter Islami

Dalam proses belajar mengajar, memberikanpendidikan karakter kepada siswa terutama karakter yang sesuai dengan prinsip-prinsip keislaman tidak kalah pentingnya dengan mengajarkan materi.Banyak celah yang bisa disisipi dengan karakter Islami sehingga peran pengajar tidak hanya mengajar akan tetapi juga mendidik karakter siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya pintar dalam bidang akademik akan tetapi juga berkarakter; dua komponen ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Pintar yang tak berkarakter, akan bertindak tanpa memikirkan kebaikan bersama sedangkan berkarakter tapi lemah dalam bidang akademik akan mengakibatkan lemahnya karakter itu sendiri sehingga tidak banyak berguna bagi kemaslahatan umat.

Dalam Islam, karakter merupakan kata lain dari akhlak yang merupakan bentuk jamak dari kata yang berasal dari bahasa Arab khuluk—secara bahasa berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Secara istilah, akhlak berarti perbuatan baik yang merupakan tingkah laku seseorang yang dilakukan secara sadar (Muda, 2006).Dalam bidang akademik, istilah karakter islami lebih banyak digunakan sebagai kata lain dari akhlak.Dalam hal ini, proses pembelajarandianggap sebagai sarana yang efektif dalam turut serta membangun karakter islami peserta didik. Semua hal positif yang didapatkan dari pendidik dalam proses pembelajaran dan berpengaruh pada tingkah laku peserta didik dikatakan sebagai karakter. Karakter positif tersebut dikatakan sebagai karakter islami apabila sesuai dengan nilai-nilai Islam yang tolok ukurnya adalah Al-Qur’an dan hadits.

Dalam Al-Qur’an dan hadits banyak ditemui ayat-ayat yang tentang pentingnya pendidikan karakter. Sebagaimana dinukilkan dalam QS. Al-Ahzab: 21 yang intinya menjelaskan bahwa dalam diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Sejalan dengan itu, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dikatakan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan karakter islami dalam proses pembelajaran sejalan dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits dengan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan.

Dalam Al-Qur’an dan hadits terdapat banyak dalil yang menyatakan keutamaan seseorang yang berakhlak. Dalam Al-Qur’an surat Ali-Imron : 134 dinukilkan  bahwa Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Selain itu, banyak sekali hadits-hadits yang juga berisi keutamaan orang yang berakhlak, diantaranya 1) orang yang terbaik dan paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Bukhori; HR. Muslim; HR. Abu Dawud; HR. At-Turmidzi); 2) pergaulilah manusia dengan akhlak mulia (HR. At-Turmidzi; HR. Imam Ahmad); 3) akhlak mulia paling berat timbangannya di hari kiamat (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, At-Turmudzi, dan Ahmad, dari Abu Darda); 4) orang yang terbaik akhlaknya paling dicintai oleh Allah (HR. At-Turmudzi); 5) kebaikan adalah akhlak mulia (HR. Muslim, At-Turmudzi, Ahmad, dan Ad-Darimi).

Karakter islami yang bisa diajarkan kepada siswa dalam proses pembelajaran diantaranya (1) berkeyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kuasa Allah (QS. Al-Baqoroh: 3); (2) kemampuan memandang jauh ke depan (QS.Al-Hashr: 18); (3)memiliki keinginan untuk menjadi orang berilmu yang bercita-cita tinggi untuk mendapatkan ridlo Allah (QS. Al-Baqoroh:218); (4) mempunyai keinginan untuk selalu meningkatkan kualitas diri (QS. Ali-Imron:153 dan QS. Al-Maidah:48); (5) mempunyai keinginan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (QS. Al-Maidah:48 danQS. Al-Mu’minun:61); (6) menggunakan waktu dengan efektif, efisien, dan produktif (QS.Al-Mu’minun:1 dan 3); (7) memiliki semangat kolektif dan kolaboratif serta tolong menolong antar sesama(QS. Al-Maidah: 3); (8) kemandirian (QS. Al-Ahqaaf:15); (9) senang mengamalkan ilmu (QS. Al-A’raaf:181 dan QS. At-Taubah:122); (10) saling tolong menolong dalam kebaikan dan peduli terhadap sesama (QS. Al-Ma’idah:2; QS. Al-Isra’:24; HR. Muslim; HR. At-Turmudzi); (11) saling menghargai sesama teman (QS.Al-Hashr: 9); (12) menjalin silaturrahim antar sesama (An-Nisa’: 1); (13) mandiri dalam menyelesaikan masalah (QS. Al-Anbiya’: 78).

 

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan sebuah studi kasus yaitu laporan tentang orang, kelompok orang, atau situasi yang dipelajari (Albert J.M., Gabrielle D, Elden Wiebe, 2010). Penelitian ini dilakukan peneliti selama satu semester dengan subjek siswa bahasa Inggris semester tiga dengan jumlah 22 mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Grammar III. Data diambil dari kuesioner, observasi, dan nilai post-test dan pre-test, serta interviu secara langsung dengan mereka. Data yang didapatkan kemudian dianalisis secara kualitatif.

Penerapan tutor sebaya dalam belajar English Grammar, peneliti memilih beberapa tutor berdasarkan nilai pretestmereka dan keaktifan mereka di kelas. Siswa dengan nilai bagus dan juga yang aktif dalam menjawab pertanyaan menjadi tutor. Kelas yang terdiri dari 22 siswa dibagi menjadi enam kelompok kecil yang terdiri dari satu tutor dan tiga anggota. Pembelajaran tutor sebaya dilakukan dalam 10 kali pertemuan yang setiapkelompoknya memiliki anggota yang sama pada setiap pertemuan. Hal ini memungkinkan tutor untuk mengontrol perkembangan masing-masing anggotanya. Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan tutor sebaya, pengajar terlebih dulu menerangkan materi yang akan dibahas dalam pertemuan itu dengan singkat; kemudian memberi kesempatan kepada semua siswa terutama pada tutor untuk menanyakan kesulitan yang dihadapi. Setelah itu membentuk kelompok kecil dengan satu tutor dan tiga anggota kelompok.

Sedangkan langkah-langkah pembelajaran dengan metode tutor sebaya, antara lain:

  • siswa diminta untuk mengerjakan pretest terlebih dahulu sebelum metode tutor sebaya diterapkan; hal ini untuk melihat peningkatan belajar siswa sebelum dan setelah metode ini diterapkan;
  • pemilihan tutor dengan melihat hasil pretest siswa;
  • pengajar memberikan materi yang akan didiskusikan oleh masing-masing kelompok; sebelum meminta mereka berdiskusi, pengajar memberikan penjelasan dan gambaran singkat tentang materi;
  • tentukan waktu yang digunakan untuk berdiskusi;
  • meminta masing-masing kelompok untuk berdiskusi; pengajar mengontrol kegiatan diskusi dengan berkeliling bergantian mendatangi kelompok;
  • setelah diskusi selesai, diadakan sharing terbuka di kelas;
  • setelah ditemukan ada permasalahan, pengajar meluruskan pemahaman yang masih salah dan meminta mereka untuk menyimpulkan materi yang telah didiskusikan;
  • untuk setiap pertemuan, diberikan tes lisan untuk mengukur pemahaman mereka; post-test diberikan setelah metode ini selesai diterapkan dalam kelas sebanyak delapan kali untuk mengukur adanya peningkatan prestasi siswa dibandingkan dengan nilai pretest mereka.

 

Temuan Penelitian dan Pembahasan

Dalam pelaksanaanya, pengajarmengontrol aktivitas siswa dan memastikan mereka mendiskusikan materi yang diberikan. Selain itu, memberikan solusi terhadap kesulitan yang dialami masing-masing kelompok. Selama proses pembelajaran, peneliti menemukan situasi yang kondusif untuk belajar, diantaranya (1) ada interaksi baik antar anggota kelompok dan tutor maupun dengan sesama anggota; (2) kelas menjadi aktif—tidak ada siswa yang merasa bosan atau ngantuk sebagaimana ditemukan dalam pembelajaran konvensional dimana pengajar menjelaskan di depan; (3) berkurangnya rasa canggung dan malu dalam bertanya; 4) dengan meningkatnya pemahaman mereka terhadap materi, kecemasan mereka dalam kelas pun berkurang; 5) menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam mengungkapkan pendapat; dan 6) dengan belajar mandiri memungkinkan siswa mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing dalam belajar dalam memahami materi tertentu.

Tabel 1 Nilai pretest dan post-test siswa.


No. Nilai

Pretest

Nilai

Post-test

 1. 82,5 95
2. 90 57,5
3. 40 35
4. 17,5 45
5. 40 50
6. 47,5 25
7. 22,5 80
8. 80 37,5
9. 27,5 57,5
10. 20 52,5
11. 20 62,5
12. 52,5 67,5
13. 30 65
14. 92,5 97,5
15. 32,5 25
16. 68 Tidak ikut post-test
17. 40 77,5
18. 77,5 90
19. 12,5 55
20. 70 80
21. 90 100
22. 25 57,5

 

 

Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa pembelajaran tutor sebaya yang diterapkan mampu meningkatkan prestasi akademik siswa dimana dari 21 siswa yang mengikuti pretest dan post-test 76% mengalami kenaikan nilai yang bervariasi mulai dari naik lima poin sampai naik 57.5 poin. Dalam beberapa kasus ada siswa yang mengalami kemerosotan nilai; dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ada lima siswa yang nilainya merosot mulai dari turun sebanyak lima digit sampai 42.5 digit. Setelah ditelusuri ternyata kemerosotan disebabkan karena beberapa bias diantaranya, 1) sering tidak mengikuti kuliah karena alasan ijin atau sakit; 2) kondisi badan yang tidak fit pada saat test; dan 3) faktor intern lain yang tidak bisa dikontrol oleh pengajar maupun peneliti. Dengan demikian proses pembelajaran tutor sebaya akan efektif apabila diikuti dengan seksama oleh peserta didik.

Selain bias yang dijelaskan di atas, ada beberapa kelemahan yang berasal dari faktor eksternal yang ditemukan peneliti di kelas diantaranya: 1) dalam beberapa hal, peneliti menemukan kurang adanya keseriusan dalam belajar karena tutornya adalah teman mereka sendiri sehingga tanpa adanya pengawasan yang ekstra ketat dari pengajar, pembelajaran akan kurang efektif; 2) sulitnya membuat kelompok yang ideal dimana masing-masing anggota merasa nyaman dengan tutor mereka dan sebaliknya; 3) tidak terkontrolnya pembahasan mereka yang terkadang terlalu spesifik dan mendalam.

Berdasarkan kuesioner yang dibagikan kepada 22 siswa, 68.8% siswa sangat terbantu dengan pembelajaran tutor sebaya dalam belajar grammar; sedangkan sisanya yaitu 31.3% menyampaikan bahwa pembelajaran tutor sebaya membantu dalam memahami materi grammar yang diajarkan. Beberapa alasan yang mereka ungkapkan antara lain dengan metode tutor sebaya mereka bisa berbagi pemahaman satu sama lain—yang lebih paham dalam hal ini tutor mengajarkan kepada anggotanya dalam kelompok. Selain itu, mereka merasa lebih leluasa dalam bertukar pikiran tanpa ada rasa canggung sehingga kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi bisa disampaikan tanpa ada rasa malu. Dengan tutor sebaya mereka juga merasa lebih berani bertanya dan menyampaikan pendapat serta tidak takut salah ketika menyampaikan pendapat.Karena diajarkan oleh tutor yang tidak lain adalah teman mereka sendiri yang bisa dibilang sebaya, maka bahasa yang digunakan pun juga lebih sederhana dan lebih memahamkan dibandingkan dengan jika diajarkan oleh pengajar. Dengan semakin pahamnya siswa akan materi yang disampaikan, maka nilai yang mereka peroleh pun semakin meningkat. Hal ini bisa dilihat dari nilai post-test mereka yang ditampilkan dalam tabel 1 di atas.

Berdasarkan kuesioner, ada beberapa karakter islami yang dibangun dalam pembelajaran dengan peer teaching, diantaranya 1) terjalinnya ukhuwah Islamiyah dengan sesama teman, yang semula kurang atau tidak akrab menjadi lebih akrab yang sesuai dengan QS. An-Nisa’: 1); 2) musyawarah dalam menyelesaikan masalah (QS. Al-Mujadilah: 11); 3) mengamalkan ilmu dengan cara mengajarkan ilmu yang diperoleh sehingga lebih banyak kemanfaatannya bagi sesama (QS. At-Taubah: 122); 4) saling menghargai sesama (QS.Al-Hashr: 9); 5) saling tolong menolong dalam kebaikan dan peduli terhadap sesama (QS. Al-Ma’idah: 2 dan QS. Al-Isra’: 24; HR. Muslim; HR. At-Turmudzi); 6) mandiri dalam menyelesaikan masalah (QS. Al-Anbiya’: 78)

 

Simpulan

Berdasarkan hasil temuan dan pembahasan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain sebagai berikut.

  1. Penerapan pembelajaran tutor sebaya sangat membantu mahasiswa dalam memahami materi grammar yang diajarkan dengan beberapa alasan, diantaranya a) meningkatkan prestasi belajar siswa; b) bisa berbagi pemahaman satu sama lain—yang lebih paham dalam hal ini tutor mengajarkan kepada anggotanya dalam kelompok; c) lebih leluasa dalam bertukar pikiran tanpa ada rasa canggung sehingga kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi bisa disampaikan tanpa ada rasa malu; d) lebih berani bertanya dan menyampaikan pendapat serta tidak takut salah; e) penggunaan bahasa yang lebih sederhana ketika menjelaskan materi.
  2. Selain manfaat-manfaat yang tersebut di atas, pembelajaran tutor sebaya juga mengambil peranannya dalam ikut serta membangun karakter islami siswa diantaranya 1) terjalinnya ukhuwah Islamiyah dengan sesama teman, yang semula kurang atau tidak akrab menjadi lebih akrab yang sesuai dengan QS. An-Nisa’: 1); 2) musyawarah dalam menyelesaikan masalah (QS. Al-Mujadilah: 11); 3) mengamalkan ilmu dengan cara mengajarkan ilmu yang diperoleh sehingga lebih banyak kemanfaatannya bagi sesama (QS. At-Taubah: 122); 4) saling menghargai sesama (QS.Al-Hashr: 9); 5) saling tolong menolong dalam kebaikan dan peduli terhadap sesama ((QS. Al-Ma’idah: 2 dan QS. Al-Isra’: 24; HR. Muslim; HR. At-Turmudzi); 6) mandiri dalam menyelesaikan masalah (QS. Al-Anbiya’: 78)
  3. Disamping manfaat-manfaat yang tersebut di atas, ada beberapa bias yang ditemukan dalam proses penerapan tutor sebaya dalam belajar grammar salah satunya adalah faktor intern siswa itu sendiri yang tidak bisa dikontrol oleh peneliti.
  4. Selain kelemahan-kelemahan yang disebutkan di atas, ada beberapa kelemahan yang berasal dari faktor eksternal seperti 1) adanya ketidakseriusan dalam belajar karena tutornya adalah teman mereka sendiri sehingga tanpa adanya pengawasan yang ekstra ketat dari pengajar, pembelajaran akan kurang efektif; 2) sulitnya membuat kelompok yang ideal dimana masing-masing anggota merasa nyaman dengan tutor mereka dan sebaliknya; 3) tidak terkontrolnya pembahasan mereka yang terkadang terlalu spesifik dan mendalam. Harapan peneliti, untuk penelitian selanjutnya agar bisa meminimalkan kelemahan-kelemahan yang berasal dari faktor eksternal tersebut.
  5. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan mampu mengembangkan penelitian dengan topik yang sama akan tetapi dengan metode dan subyek penelitian yang berbeda dan lebih luas lingkupnya. Dengan demikian tercapailah tujuan pembelajaran yang sekaligus berperan dalam membentuk karakter islami siswa dalam lingkup yang lebih luas.

Daftar Rujukan

Albert J.M., Gabrielle D, Elden Wiebe. (2010). Encyclopedia of Case Study Reseacrh .California : Sage Publication.

  1. Bozeman & M. K. Feeney. (2007). “Toward a Useful Theory of Mentoring: A Conceptual Analysis and Critique. Administration &Society , 719–739.
  2. Bozemen& M.K. Feeney. (2008). Menthor Matching A Goodness of Fit Model .Administration and Society , 465-482.

Muda, A. A. (2006). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Jakarta: Reality Publisher.

Ronald C., McCharty, & Michael. (2006). Cambridge Grammar of English: A Comprehensive Guide. Cambridge: Cambridge University Press.

 Biodata Penulis

Henny Rahmawati adalah seorang dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang yang sebagian besar mengajar mata kuliah grammar. Penelitian yang pernah dilakukan diantaranya tentang Investigating the Use of Bahasa Indonesia in Teaching Grammar yang diterbitkan dalam prosiding international.