PAGI DAN KEMATIAN MENJELANG

(Atia PBSI Semester 2 – Fenomena)

Aku membayangkan kematian begitu dekat melambai dingin menerpa kulitku yang terasa mulai beku menjalar masuk melemaskan segala persendian, menarik nafasku perlahan hingga terasa sesak.Apakah malaikat maut akan tiba pagi ini? Ah…, aku belum mengucapkan salam perpisahan kepada adik sepupuku yang tergeletak bisu dalam rumah sakit. Apakah kematian juga menyapanya?Aku lebih bersyukur.Aku mati dia juga mati. Percuma saja jika ia tetap hidup karena jiwanya telah mati yang tersisa hanya raga yang di grogoti kesepian sejak ia dilahirkan. Kematian memang selalu menghantui bukan? Pandanganku samar jatuh pada cahaya lampu jalanan, bau anyir masuk dalam penciumanku, suara orang-orang bersahut-sahutan berdatangan namun makin lama makin lemah, sebelum mencoba sadar sekejap pandanganku berubah menjadi gelap.

Hujan kemarin sore begitu deras, aku tergopoh-gopoh membawa adik sepupuku yang tidak sadarkandiri ke rumah sakit.Kulihat wajahnya pucat pasi, tubuhnya begitu ringkihdan darah terus keluar dari lubang hidung sebelah kananynya. Ia merintih, bibirnya bergetar lalu berkata ketika ia membuka mata “Kak…, aku ingin bertemu dengan ibu.”

Aku menatap bola matanya sendu“Iya Nadia, kapanpun kau mau kau akan bertemu dengannya,” ucapku seolah meyakinkan. Mungkinsudah waktunya untuk meluruhkan segala penderitaan.

Nadia tersenyum sementara aku terus menggendongnya menuju ruangan dengan interior  serba putih yang sudah tidak asing lagi. Kemudian merebahkan tubuhnya aku menatap untuk yang terakhir kali, sebelum senyum kembangnya sirna kuperhatikan wajahnya, sorot matayang tak lagi mengilat hanya memejam mungkin sudah letih atas kesepian yang dirasa.Aku mencium pipinya yang tirus tak berisi.

“Dengar sayang, kau akan menemukan teman dalam kebahagiaan yang tak terkira. Kau tidak akan lagi merasa seorang diri. Dan rasa rindu kepada ibumu akan berujung temu,” bisikku agak menahan isak.Mencium pipinya sekali lagi.

Senyumnya makin mengembang namun tetap dengan mata terpejam.

Akupun melangkah keluar ruangan,menggesek pintu perlahan dengan langkah sedikit gontai meraih tempat duduk yang bersandar pada dinding. Aku menghela, tidak boleh ada penyesalan atas apa yang sudah terucapkan, lebih baik ia mati karena itu keinginan yang sudah dinantikannya.

Di tengah lamunanku derap langkah kaki mendekat, seseorang bersuara dalam keheningan

“Mas Aji, kau harus mengambil obat Antiretroviral,” suster Marta berkata padaku.

“Tidak usah,” jawabku datar.

“Kenapa?” tanyanya, menatapku tajam.

“Harapan untuk tetap hidup ia tolak apalagi sebuah pil yang berusaha berperang dengan virusnya.”

“Kenapa?”Tanyanya lagi kali ini dengan memicingkan matanya, heran.Lantas melangkah duduk disampingku.

Diantara tiga suster yang menjaga Nadia, suster Marta yang paling dekat denganku dan aku merasa dekat dengannya seolah ada perekat diantara aku dan dia.

“Nadia menulis pesan dalam diary bersampul biru yang aku kasih 2 minggu sebelum ini setelah diary lamanya penuh. Sengaja aku memberikannya agar ia tidak merasa sendirian ketika aku pergi bekerja. Ia bisa berbicara bebas dalam diary itu.”

“Boleh aku baca?”

Akupun mengambil diary lantas membukanya mencari-cari letak pesan itu. Lalu kusodorkan pada suster Marta dan ia membacanya :

Kak aku telah lama memandang danau dalam gelap, sejak aku dalam kandungan dan Mendengar deru angin dalam pelukannya yang dingin.Tak ada yang disesali, akupun tidak marah pada ibu yang melahirkanku dengan keadaan terjangkit virus ini malah aku berterimakasih karena diberi kesempatan untuk melihat bagaimana pohon bisa tumbuh di setiap musimnya atau mendengar burung yang bersiul di pagi dan sore hari.Namun,dimana ketika detik terakhir tiba.Kumohon sambutlah kematianku dengan suka cita karena aku berbahagia.Jangan seperti kelahiranku yang mengundang kepiluan. Makamkanlah aku disampingperistirahatan ibuku.

Semuanya bermula saat 15 tahun lalu disuatu malam yang pekat, Pintu rumah sudah terkunci rapat.Aku dan ibu sudah terlelap dalam kamar masing-masing.tiba-tiba terbangunkan oleh suara ketukan pintu yang diketuk berkali-kali.Aku tidak ingin beranjak dari tempat tidur memilih untuk berpura-pura memejamkan mata,siapa yang bertamu malam-malam begini, ujarku membatin. Bayangan ibu lewat dalam temaram lampu 5 watt melewati kamarku yang tidak berpintu.Lambat-lambat suara raung terdengar jelas memekak telingaku.

“Kamu kenapa hah…!” teriak ibu tak kalah kerasnya, suaranya parau menyaksikan kakakku Rubiah datang dengan perut membesar.

“Ibu, aku hamil, aku juga pesakitan,” ucap kak Rubiah menggenggam tangan ibu.

Aku mengintip dari balik tirai pintu.

“Aku diperkosa oleh sang durjana itu dan ia menularkan penyakitnya dalam diriku dan bayi ini. Ini jelas-jelas bukan keinginanku Bu…, kasih tau,apa aku harus mati bersama bayi ini? Aku HIV positif, sepertinya aku telah dikutuk oleh waktu.”

Tangisan kak Rubiah makin menjadi

Ibu memeluk kak Rubiah dan mereka larut dalam tangisan pilu.

Setelah malam itu kak Rubiah mulai tinggal dan ia sama sekali tidak keluar rumah kecuali saat jam 3 pagi. Ia akan berkeliling disekitar halaman depan mengitari kegelapan yang seolah sedang berdansa dalam dirinya. Tatapannya selalu tertuju pada danau yang berbatas jalan setapak.Kebiasaan tersebut berlanjut pada Nadia setelah kematiannya.”

Aku mengingat-ingat kejadian itu, lantas meneruskan penuturanku.

“Aku diliputi rasa bersalah karena semasa hidupnya aku tidak mendekat apalagi berbicara dengannya.Aku menganggap kakakku serupa monster yang harus diwaspadai. Aku takut bahkan aku mengira ibukupun telah terjangkit HIV karena sering menemaninya.Akhirnya ibu mencium ketakutanku lalu membawaku ke rumah sakit, kami tes HIV dan hasilnya negatif.Mulai darisitu aku mencari-cari informasi lewat buku-buku bacaan yang ada diperpustakaan, berselancar lewat internet dan menanyakan pada guru biologi tentang HIV AIDS.”

“Rasa simpatiku muncul pada saat itu juga,” ungkapku mengalir begitu saja.

“Kau begitu dekat dengan Nadia, biasanya keluarga korban HIV akan menyerahkan korban di LSM, karena tidak menyanggupi,”ia menatapku serius.

“Aku sempat memasukkannya ke LSM. Nadia lebih sering mendapat perlakuan. Diskriminatif dan tidak bisa bersekolah sebab tidak ada yang mau menerimanya sedangkan disanaia bisa belajar dan bertingkah seperti anak pada umumnya. Dua tahun berselang aku mengambilnya dan membawanya kembali ke rumah.”

“Sekitar ada 334 orang yang seusia Nadia menderita HIV sedangkan keseluruhan dari penduduk Indonesia ada 10.376 orang yang bernasib sama. Tak sedikit dari mereka mengalami tindakan diskriminatif dari masyarakat, Nadia beruntung didampingi oleh paman sepertimu, Mas Aji,” ucapnya tersenyum

“Lalu apa kau akan membiarkan keinginannya itu berlaku hari ini?Selorohnya cepat.

Sebelum aku menjawab.Ia sesekali membalas sapaan dari perawat yang lewat.

“Itu keinginannya, lagipula sudah 2 minggu ia tidak mau mengonsumsi Antiretrovial,” ucapku.

Memang sudah putus asa.

“Pantas saja, metabolismenya menurun lebih cepat.”

“Aku harap setelah ia melihatmu, iaakan kembali ingin melanjutkan hidup. Ia pernah berujaringin menjadi sepertimu, seorang perawat, sebab itu aku membawanya kemari,” kali ini aku memandangnya penuh harap.

“Aku telah menemui dan memangilnya namun ia tetap memejamkan mata, aku akan coba sekali lagi,” ucapnya sembari meninggalkanku.

Percakapan panjang terjadi malam itu.

Seketika waktu sudah menunjuk pukul 6 pagi, aku berjalan menyuri lorong rumah sakit menuju dermaga.Menjemput kebiasaanku minum kopi di pagi hari.Ada satu-satunya warung yang telah buka hanya 500 km jaraknya.Selain itu aku merasa perutku meronta ingin makan segera, kupercepat langkah.Jalan raya nampak lengang, sedikit orang yang lalu-lalang.Aku berlari kecil hingga tiba-tiba ada sesuatu yang membentur kakiku. Sontak, kulihat ternyata 2 ekor kucing hitam yang sedang berkejaran.

Tiiiiiiiiiinnnnnn,suara klakson terdengar memekak telinga, aku menoleh ke sumber suara.

“Bruugggggg!”

Bau anyir setan pada sepupuku itu melayang dan tiba-tiba segalanya menjadi gelap.

***

Aku mendapati diriku penuh perban di kepala dan kaki setelah sadarkan diri

“Apa yang terjadi?” tanyaku pada suster Marta yang muncul dari balik pintu

“Kau tertabrak Mas Aji,” ungkapnya.

Aku tak bergeming memandang dinding bercat putih, siluet ingatanku perlahan kembali.

“Nadia,” desisku, entah bagaimana tiba-tiba aku terngiang pesan Nadiaku, mohon sambutlah kematianku dengan suka cita.

“Tanggal berapa ini Sus? Sudah berapa hari aku tak sadarkan diri?”

mmm…, tanggal 29 Mei, sudah 2 hari anda tak sadarkan diri,”kedua tangannya tak diam memeriksa peralatan medisku.

“Bagaimana kabar Nadia?” ucapku lirih, berkaca-kaca. Menghentikan aktivitasnya itu

“Maaf Tuan Aji, Nadia baru saja menghembuskan napas terakhirnya.”

Aku tercenung seperti marmut kehilangan kuacinya, segera aku memalingkan muka, rasanya ingin menangis tapi kelopak mataku seolah terbenteng, menahan air yang akan jebol dari tanggulnya.segera aku menatap lagi pada suster Marta dan tersenyum lebar.

“Sesuai pesan itu Sus, ini adalah hari ulang tahunnya.”

Kumohon sambutlah kematianku dengan suka cita, karena aku berbahagia.Jangan seperti kelahiranku yang mengundang kepiluan. Makamkanlah aku disamping peristirahan ibuku.

 

SELESAI

Indramayu, 20 februari 2018