Home » Artikel Inspirasi, Motivasi » Menginfuskan Nilai-nilai Keislaman dalam Pendidikan Karakter Bangsa oleh Muhammad Yunus

Menginfuskan Nilai-nilai Keislaman dalam Pendidikan Karakter Bangsa oleh Muhammad Yunus

August 8th, 2017 Leave a comment Go to comments

Menginfuskan Nilai-nilai Keislaman dalam Pendidikan Karakter Bangsa

Muhammad Yunus

(Dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Wakil Dekan III FKIP Universitas Islam Malang)

Pendidikan menurut Undang-undang Sisdiknas RI No. 20 Tahun 2003 berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Inilah landasan pentingnya pendidikan di Indonesia yang cita-citanya membentuk manusia Indonesia mempunyai kematangan dimensi keTuhanan (jiwa atau ruhani yang stabil), dimensi kemanusiaan (emosi yang terkendali), optimalnya fungsi otak, dan kemahiran keterampilan yang dimiliki.

Dari konsepsi ini pemerintah Indonesia mencanangkan pendidikan karakter bangsa yang mencirikan warga negara bangsa Indonesia dan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. Pertanyaannya adalah bagaimana strategi mencapai kesusksesan karakter-karakter tersebut. Banyak ahli menawarkan konsepsi-konsepsi pendidikan karakter untuk mewujudkan keberlanjutan bangsa dan negara ini mulai dari tataran konsep sampai implementasi dilapangan. Dalam konteks inilah, tulisan ini mencoba menawarkan pemikiran konsepsi pendidikan karakter dalam sudut pandang Islam (al quran) yang relevan dalam membentu pemerintah Indonesia mewujudkan pendidikan karakter bangsa. Menurut hemat saya, yang utama dan pertama kali yang perlu dibangun adalah kemampuan literasi (membaca) baik teks maupun konteks kehidupan. Hal in didasari atas wahyu pertama yang Allah SWT sampaikan kepada utusanNya untuk mengemban tugas kerosulan adalah iqra’ (membaca).

Dalam sarah Bukhari dijelaskan, penyampaian wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk pertamakalinya adalah surat Al-Alaq (96) ayat 1-5, yang artinya Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Diceritakan dalam sarah Bukhari tersebut bahwa datangnya Malaikat Jibril di Gua Hira itu dalam suasana hening. Ketika muncul cahaya itu (Malaikat Jibril) seorang Muhammad merasa takut luar biasa. Pertama yang disampaikan Malaikat kepada Nabi adalah iqra’. Nabipun menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Sampai tiga kali diulang, jawaban Nabipun sama. Akhirnya Malaikat mendekati Nabi dan memeluknya dan melanjutkan bacaan tersebut sampai ayat kelima. Dari kisah ini ada pelajaran yang dapat dipelajari yaitu adanya kedekatan dari penyampai kepada orang yang disampaikannya. Tapi yang penting untuk ditelaah adalah kenapa iqra’ yang menjadi perintah pertama kali. Dan apa kaitannya dengan pendidikan karakter bangsa.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa didalam ayat ini berisi pesan agar manusia senantiasa ingat bahwa manusia itu berasal dari segumpal darah (‘alaqah). Dalam kemurahan Allah SWT itu manusia diajarkan apa-apa yang mereka tidak ketahui. Itulah ilmu yang diberikan kepada manusia sebagai pembeda Abul basyar (Adam) dengan makhluk Allah yang lain (Malaikat dan Jin). Ilmu itu mencakup aspek hati, lisan, dan tulisan. Untuk mencapai itu semua Allah perintahkan untuk senantiasa membaca dan dzikir kepada Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam do’a Nabi Ibrahim yang diabadikan Allah dalam firmanNya QS Al Baqarah ayat 129 yang meletakkan posisi kemampuan membaca diawal (Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS:2:129). Ayat ini secara implisit menegaskan bahwa kegiatan membaca menjadi penentu dari aktivitas berikutnya (mengajarkan Al Quran dan Alhikmah).

Abudin Natta (2013) dalam buku Kapita Selekta Pendidikan Islam menjelaskan bahwa membaca itu mempunyai makna yang luas yang mencakup mengumpulkan informasi, memahami, mengklasifikasi atau mengategorisasi, membandingkan, menganalisis, menyimpulkan dan memverifikasi. Membaca adalah nutrisi tidak hanya bagi otak tetapi juga untuk ruhani. Dengan membaca senantiasa akan mengantarkan kita menjadi orang yang bijaksana dan mempunyai akhlakul karimah. Seluruh aspek pengetahuan, sikap, tindak tanduk, tindak tutur dipengaruhi oleh seberapa dalam seseorang dalam membaca. Termasuk didalamnya dalam membangun jiwa raga (karakter) Indonesia maka tidak bisa dilepaskan dari aktivitas dan budaya membaca ini.

Oleh karenya begitu miris dan sedih tatkala studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univeristy pada Maret 2016 tentang Most Littered Nation in the World menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Sementara itu, data dari Kominfo menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-4 dunia pengguna media sosial terbayak setelah USA, Brazil, dan India. Korelasi berbalik ini sangatlah berbahaya. Menginat media baru (medsos) saat ini dijadikan media penyebaran informasi yang begitu cepat, sementara receivernya (pembacanya) berkemampuan membaca rendah. Maka tidak heran jika Indonesia saat ini menjadi ladang penyebaran hoax.

Saya menduga, keterpurukan bangsa saat ini mulai dari sikap amoral yang dipertontonkan oleh pejabat pemerintahan (korupsi) hingga para remaja (narkoba dan seks bebas), hilangnya sikap sopan santun dan segala kejelekan yang disematkan diakibatkan oleh rendahnya minat baca dan kemampuan membaca yang baik. Orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk membaca maka akan menutup ruang pada dirinya untuk bertindak keburukan.

Akhirnya, membaca harus kita pahami sebagai perintah Allah SWT yang pertama kali disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang harus dijadikan budaya oleh umat Rosulullah. Membaca harus diikuti dengan berdzikir (ingat) kepada Allah SWT. Jika perintah luhur ini dapat diinfuskan dalam pendidikan kita, maka membangun karakter bangsa In sya Allah bukanlah mimpi. Manusia-manusia ulul albab yang berkarakter akan terwujud. Semoga…

 

 

 

 

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

العربية العربية English English Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia